Selasa, 20 Januari 2015

Konsep-Konsep Dasar Akuntansi



Konsep-Konsep Dasar Akuntansi

            Dalam pokok bahasan ini Anda dapat memperoleh informasi tentang konsep-konsep dasar akuntansi. Uraian materi ini bertujuan untuk menyegarkan kembali ingatan Anda tentang pengetahuan akuntansi secara mendasar. Dengan memahami materi ini Anda akan memperoleh gambaran umum tentang akuntansi dan arti pentingnya bagi organisasi, baik organisasi usaha/bisnis maupun bukan.

a.   Pengertian

            Perlu Anda ingat bahwa akuntansi merupakan suatu proses dari tiga aktivitas. Ketiga aktivitas itu adalah: pengidentifikasian (identifying), pencatatan (recording), dan pengkomunikasian (communicating) peristiwa-peristiwa ekonomi dari suatu organisasi bisnis dan non bisnis untuk kepentingan pemakai (user) informasi. Peristiwa-peristiwa ekonomi yang dimaksud adalah transaksi keuangan yaitu setiap kejadian di dalam organisasi yang menyebabkan bertambah, berkurang, dan/atau berubahnya susunan kekayaan, kewajiban, dan modal (ekuitas) organisasi yang bersangkutan. Aktivitas pengidentifikasian merupakan upaya untuk menyeleksi dan mengukur peristiwa-peristiwa yang relevan dengan kegiatan ekonomi perusahaan. Menyeleksi berarti memilah dan memilih peristiwa yang relevan dengan kegiatan ekonomi perusahaan, sedangkan mengukur berarti menghitung dan menentukan  nilainya dalam satuan uang, misalnya rupiah. Aktivitas pencatatan merupakan upaya untuk merekam peristiwa-peristiwa ekonomi tersebut dalam sebuah catatan permanen dari aktivitas ekonomi organisasi sebagai sumber informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam pencatatan, aktivitas ekonomi juga diklasifikasikan dan diringkas. Aktivitas  pengkomunikasian merupakan kegiatan untuk menyampaikan informasi melalui penyiapan dan pendistribusian laporan akuntansi, yang biasanya disebut dengan Laporan Keuangan (financial statement). Untuk membuat laporan tentang informasi keuangan yang bermanfaat, akuntan harus menggambarkan dan melaporkan data yang tercatat dalam cara yang terstandar.

b.  Pemakai Data Akuntansi

Coba Anda ingat-ingat dan sebutkan,  siapa saja yang memerlukan informasi keuangan dari suatu perusahaan? Kalau kita rinci satu persatu tentunya banyak pihak yang memerlukan informasi tersebut bukan? Namun, jika kita pilah dalam garis besar, kita dapat mengelompokkannya dalam dua kelompok saja, yaitu pihak internal dan pihak eksternal.
1)      Pihak Internal yaitu orang dalam perusahaan. Mereka adalah pemakai informasi dari dalam perusahaan itu sendiri. Pihak internal yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan meliputi manajer perusahaan yang merencanakan, mengorganisasi, menjalankan bisnis, dan mengawasinya. Di dalamnya termasuk manajer pemasaran, pengawas produksi, direktur keuangan, dan sebagainya. Mereka berkepentingan terhadap informasi tersebut sebagai bahan evaluasi diri dan sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Selain itu juga karyawan perusahaan, dengan tujuan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan menjamin kontinuitas kerja dan  peningkatan  kesejahteraannya.
2)      Pihak Eksternal, yaitu pihak-pihak  di luar perusahaan yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan. Mereka adalah pemakai informasi dari luar perusahaan yang meliputi: (a) investor (pemilik) yang menggunakan informasi akuntansi dalam membuat keputusan untuk membeli, tetap mempertahankan pemilikan, atau menjual saham; (b) kreditor, seperti supplier, dan banker menggunakan informasi akuntansi untuk mengevaluasi risiko kredit atau peminjaman uang; (c) otoritas pajak yang ingin mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak; (d) pelanggan yang ingin mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kontinuitas  usahanya dan kemampuannya dalam memberikan jaminan mutu produk dan sebagainya; (e) organisasi pekerja yang ingin mengetahui kemampuan pemilik dalam menjamin pembayaran gaji, kenaikkan gaji, memberi bonus kepada karyawan dan menjamin peningkatan kesejahteraan karyawan.

c.  Profesi Akuntansi

            Apakah Anda masih ingat jenis-jenis profesi akuntansi? Uraian berikut ini akan membantu Anda untuk mengingatnya kembali. Secara garis besar, profesi akuntansi dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu (a) Public Accounting, (b) Private Accounting, dan (c) Not-for-Profit Accounting.
a.   Public Accounting yang memberikan layanan jasa kepada publik dalam bidang pemeriksaan (auditing), pajak (taxation), dan konsultasi manajemen (management consulting).
b.   Private Accounting mempunyai peran sebagai pegawai perusahaan yang akan menangani aktivitas-aktivitas penentuan biaya (cost accounting), penganggaran (budgeting), akuntansi (general accounting), sistem informasi akuntansi (accounting information system), akuntansi pajak (tax accounting) dan audit  internal (internal auditing).
c.   Not-for-Profit Accounting yang memberikan layanan jasa mencatat dan melaporkan peristiwa-peristiwa ekonomi instansi pemerintah dan organisasi yang tidak profit motive (organisasi bukan pencari laba),  seperti akuntan pemerintah dan akuntan pendidik.

d.  Generally Accepted Accounting Principles

            Pelaksanaan akuntansi di suatu perusahaan seharusnya mengikuti prinsip-prinsip akuntansi yang berterima umum (generally accepted accounting principles yang disingkat GAAP). GAAP tersebut dikembangkan dari ugeran (rule) dan perjanjian (convention). Profesi akuntansi telah berusaha mengembangkan sebuah standar akuntansi yang secara umum diterima dan secara universal dipraktikkan. Usaha ini telah menghasilkan sebuah standar umum yang disebut Generally Accepted Accounting Principles (GAAP). Isi GAAP berupa petunjuk tentang tata cara melaporkan peristiwa-peristiwa ekonomi di suatu instansi/organisasi. Di Indonesia, standar akuntansi telah dihasilkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang pada awalnya disebut Prinsip Akuntansi Indonesia disingkat PAI, dan sejak tahun 1998 disebut dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). IAI selalu menyesuaikan dan merevisi SAK sesuai dengan tuntutan  kebutuhan masyarakat.

e.  Asumsi-Asumsi dalam Akuntansi

            Dalam menyelenggarakan akuntansi, kita harus berpegang pada asumsi-asumsi dasar. Pengembangan prinsip akuntansi yang berterima umum (GAAP) juga telah didasarkan pada asumsi-asumsi dasar tersebut. Asumsi-asumsi ini memberikan dasar bagi proses penyelenggaraan akuntansi. Beberapa asumsi yang penting bagi  pelaksanaan akuntansi seperti  diuraikan berikut ini.
1)      Monetary unit assumtion, asumsi ini mensyaratkan bahwa hanya data keuangan yang dapat dimasukkan dalam catatan akuntansi dari entitas ekonomi. Oleh karena itu, satuan uang digunakan sebagai penunjuk atau pengukur nilai peristiwa ekonomi di suatu entitas ekonomi tersebut. Selain itu asumsi ini ditambah dengan asumsi lain, yakni bahwa satuan unit moneter yang dimaksud  adalah konstan (nilai historis).
2)      Economic Entity Assumption, menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa ekonomi dapat diidentifikasi dengan fakta-fakta yang akuntabel. Asumsi ini mensyaratkan bahwa aktivitas dari entitas ekonomi harus dipisahkan dan dibedakan dengan aktivitas yang dilakukan oleh pemiliknya.
3)      Going concern, asumsi ini menyatakan bahwa kegiatan entitas ekonomi akan berlanjut terus sepanjang masa. Namun aktivitas usahanya  diatur secara periodik. Hal ini berarti bahwa aktivitas entitas ekonomi di batasi per periode tertentu misalnya setahunan,  sehingga dapat dievaluasi perkembangannya dari  periode ke periode.

f. Bentuk-Bentuk Bisnis ditinjau dari kepemilikannya

            Marilah kita mengingat kembali tentang berbagai bentuk organisasi kegiatan bisnis ditinjau dari segi kepemilikannya. Secara umum kita dapat mengelompokkannya menjadi tiga kelompok, yaitu bentuk perseorangan, persekutuan, dan perseroan.
a)      Perseorangan (proprietorship) yaitu bentuk bisnis yang dimiliki oleh satu orang saja yang bertanggung jawab penuh dan tidak terbatas terhadap risiko perusahaan. Bentuk bisnis ini paling sederhana dan proses pengambilan keputusan sangat cepat karena hanya ditentukan oleh satu orang. Maju tidaknya usaha dari perusahaan jenis ini sangat ditentukan oleh satu orang, yaitu pemiliknya. Oleh karena itu, kontinuitas  usahanya tidak terjamin, karena sangat tergantung pada seorang. Ciri akuntansi untuk bentuk bisnis seperti ini ditunjukkan oleh pengalokasian laba perusahaan ke akun modal pemilik. Di dalam neraca tampak hanya ada satu akun modal.
b)      Persekutuan (partnership)  yaitu bentuk bisnis yang dimiliki oleh dua orang atau lebih yang bergabung sebagai partner. Dalam persekutuan ini ada yang para sekutunya  memiliki hak dan kewajiban sama dalam mengelola dan mengembangkan usaha (semua sekutu aktif), tetapi ada juga yang sebagian sekutunya hanya menyetor modal tanpa ikut mengelola usaha (sebagian sekutunya pasif). Bentuk pertama  lasim disebut firma, sedangkan bentuk kedua  lasim disebut persekutuan komanditer/CV. Para sekutu aktif bertanggung jawab penuh dan tidak terbatas terhadap risiko perusahaan, sedangkan sekutu pasif bertanggungjawab sebatas modal yang disertakan. Bentuk bisnis ini  lebih kompleks dan proses pengambilan keputusan relatif lambat karena  harus memperoleh kesepakatan dari banyak orang (para sekutu aktif). Maju tidaknya usaha dari perusahaan jenis ini ditentukan oleh banyak orang, yaitu para sekutunya. Mengingat pemiliknya tidak hanya satu orang, maka kontinuitas  usahanya lebih terjamin. Konsekuensi akuntansinya adalah bahwa laba/rugi perusahaan akan dialokasikan ke akun-akun modal para pemilik sesuai dengan kesepakatan mereka.  Dengan demikian, di dalam neraca akan tampak beberapa akun modal.
c)      Corporation (perseroan) adalah suatu organisasi bisnis yang lebih bersifat legal secara hukum (berbadan hukum) yang dimiliki oleh banyak orang. Bukti kepemilikan seseorang terhadap perusahaan ditunjukkan oleh saham yang dimiliki. Tanggung jawab para pemilik/pemegang saham terhadap risiko perusahaan terbatas pada modal yang disertakan pada perusahaan atau sebesar nilai saham yang dimiliki. Bentuk bisnis seperti ini  sangat kompleks dan proses pengambilan keputusan relatif lambat karena  harus memperoleh kesepakatan dari banyak orang (para pemegang saham) di dalam rapat umum pemegang saham. Namun, keputusan yang diambil melalui rapat umum pemegang saham pada umumnya yang bersifat strategi dan berupa kebijakan umum, sedangkan keputusan yang bersifat operasional didelegasikan kepada direktur/manajer sebagai pemegang kendali kegiatan operasional perusahaan.   Biasanya, pengelolaannya sangat professional, karena ditangani oleh direktur/manajer yang professional. Bisnis jenis ini sangat mudah mengembangkan modal, karena dapat menghimpunnya dari masyarakat luas melalui penjualan saham. Kontinuitas  usahanya lebih terjamin, karena tidak hanya bergantung kepada satu atau beberapa orang saja, melainkan ditentukan oleh para pemegang saham dan pengelolaannya pun secara profesional. Pengendalian dan pengawasan terhadap kepeminpinan direktur ditangani oleh dewan komisaris sebagai wakil para pemegang saham. Konsekuensi akuntansinya adalah  adanya pembagian laba/rugi kepada para pemiliknya. Disamping itu, di neraca disajikan beberapa akun modal (ekuitas pemilik)
d)     Selain ketiga bentuk organisasi bisnis tersebut ada bentuk lain yang juga bersifat legal secara hukum (berbadan hukum). Namun,  bukti kepemilikannya bukan ditunjukkan oleh pemilikan saham, tetapi berupa pemilikan simpanan-simpanan, baik berupa simpanan pokok maupun simpanan wajib. Bentuk oganisasi bisnis ini disebut koperasi. Tanggung jawab para pemilik/anggota terhadap risiko perusahaan terbatas pada modal yang disertakan atau sebesar simpanan mereka. Proses pengambilan keputusan relatif lambat karena  harus memperoleh kesepakatan dari banyak orang (para anggota) di dalam rapat angota. Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di dalam koperasi. Rapat anggota memutuskan  kebijakan-kebijakan yang bersifat umum, sedangkan keputusan yang bersifat operasional didelegasikan kepada pengurus sebagai pemegang pimpinan, baik di bidang organisasi maupun usaha. Pengurus atas kesepakatan rapat anggota bisa mengangkat manajer dan karyawan yang diserahi tugas mengelola bidang usaha. Namun, biasanya  pengelolaan koperasi kurang professional akibat  keterbatasan kemampuan koperasi, sehingga belum mampu mengangkat manajer professional. Bentuk usaha koperasi relatif tahan terhadap apresiasi dollar. Pengendalian atas kepeminpinan pengurus ditangani oleh pengawas yang dipilih dan diangkat anggota di dalam rapat anggota. Konsekuensi akuntansinya adalah  adanya pembagian sisa hasil usaha (SHU)  kepada para pemiliknya (anggota) yang didasarkan pada jasa masing-masing anggota. Bentuk organisasi bisnis ini memiliki cukup banyak akun modal, seperti simpanan-simpanan, terutama simpanan pokok dan simpanan wajib, SHU yang ditahan/belum dibagi, modal donasi dan sebagainya.

g. Bentuk Bisnis ditinjau dari jenis usahanya
Selain membedakan organisasi bisnis dari sisi kepemilikannya, kita juga dapat membedakannya atas dasar bidang usaha yang dikelola. Secara umum kita dapat mengelompokkannya menjadi tiga kelompok organisasi bisnis, yaitu perusahaan jasa, perusahaan dagang,  dan perusahaan industri dan pengolahan.
a)      Perusahaan jasa adalah organisasi bisnis yang aktivitasnya memberikan layanan jasa kepada para pelanggannya. Mereka memberi layanan jasa kepada masyarakat dan sebagai imbalanannya perusahaan memperoleh penghasilan. Penghasilan tersebut bersumber dari hasil penjualan jasa. Untuk memberikan layanan itu diperlukan biaya baik berupa perlengkapan yang diperlukan untuk memberikan layanan jasa itu maupun dalam bentuk lain. Akuntansi jenis perusahaan ini relatif sederhana, karena tidak banyak jenis transaksi yang terjadi di perusahaan. 
b)      Perusahaan dagang adalah suatu organisasi bisnis yang aktivitas utamanya adalah membeli barang dagangan dan menjualnya kembali kepada pelanggan tanpa ada upaya untuk mengolah atau mengubah wujud barang dagangan itu. Sebelum dijual pada umumnya barang itu dipilih dan dipilah atau disortir terlebih dulu untuk menentukan kualitas dan harganya.  Dibandingkan dengan perusahaan jasa, perusahaan dagang lebih rumit, karena jenis transaksi ekonominya relatif lebih banyak dan  kompleks. Oleh karena itu, akuntansi jenis perusahaan ini relatif lebih rumit dibandingkan dengan akuntansi perusahaan jasa.
c)       Perusahaan Industri, biasanya dilengkapi dengan pengolahan, sehingga sebutannya  menjadi perusahaan industri dan pengolahan. Aktivitas perusahaan ini adalah membeli bahan baku untuk diolah menjadi produk baru (barang setengah jadi atau barang jadi). Barang yang telah diolah selanjutnya dipilih, dipilah, dikemas, dilabeli,baru dijual. Jenis bahan yang dibeli oleh perusahaan ini berupa bahan mentah atau bahan baku yang tidak dijual secara langsung kepada pelanggannya, melainkan diproses terlebih dulu untuk diolah sehingga menjadi barang setengah jadi atau bahan jadi. Setelah itu baru dijual kepada para pelanggannya. Hal ini akan berdampak pada penyelenggaraan akuntansinya.

TUGAS
Carilah contoh 5 (lima) buah usaha (perusahaan) jasa yang ada di lingkungan Anda, kemudian catatlah  hal-hal berikut:
  1. nama masing-masing perusahaan
  2. alamat masing-masing
  3. jenis usaha masing-masing
  4. jenis transaksi yang dilakukan
  5. pilih dari contoh Anda tersebut satu perusahaan yang paling besar dan catatlah
transaksi ekonominya selama satu bulan lengkapi dengan nilai transaksi tersebut,
jika ada, mintalah informasi tentang laporan keuangannya atau setidak-tidaknya neraca (daftar harta, hutang, dan modalnya)

PENGERTIAN AKUNTANSI

PENGERTIAN AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG



AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG
 A.      DEFINISI AKUNTANSI
Akuntansi diartikan sebagai seni pencatatan, pengklasifikasian dan pengikhtisaran dengan cara yang sepatutnya dan dalam satuan uang atas transaksi dan kejadian yang setidak-tidaknya sebagian mempunyai sifat keuangan serta penginterpretasian hasil dari pencatatan tersebut.
B.      PERMASALAHAN                   
Akuntansi Perusahaan Dagang
C.      PEMBAHASAN
Akuntansi Perusahaan Dagang  adalah perusahaan yang kegiatan usahanya membeli dan menjual kembali barang dagangan tanpa merubah bentuk dengan harapan memperoleh keuntungan.
D.      TUJUAN
Adanya Akuntansi Perusahaan Dagang dikarenakan banyaknya perusahaan dagang yang membutuhkan jasa accounting yang faham dan mengerti tentang akuntansi dagang.  Selain itu akuntansi dagang juga memiliki laporan-laporan akuntansi dagang tersendiri yang telah dibuat sesuai prosedur, tujuan pembuatan laporan ini berguna untuk mempermudah pembuatan laporan perusahaan dagang.
Laporan-laporan yang diperlukan pada akuntansi perusahaan dagang
1. jurnal umum
2. buku besar
3. neraca saldo
4. penyesuaian dan kertas kerja
5. laporan laba rugi
6. neraca
7. laporan perubahan keuangan
8. penutupan buku
  1. MENGKLASIFIKASIKAN AKUN-AKUN YANG ADA DALAM PERUSAHAAN DAGANG.
    1. Pembelian adalah akun yang digunakan untuk mencatat setiap terjadi transaksi “pembelian barang dagangan” baik secara tunai maupun kredit. Akun “pembelian” dicatat di sisi debet, sedangkan “Kas” atau “Utang dagang” di sisi kredit.
    1. Potongan pembelian adalah akun yang digunakan untuk mencatat potongan yang diberikan oleh penjual barang dagangan. Besarnya potongan pembelian dan syarat untuk mendapatkan potongan pembelian biasanya ditentukan oleh penjual. Misal syarat pembayaran 2/10, n/30 artinya pembeli akan mendapat potongan 2% jika membayar dalam 10 hari atau kurang dari tanggal transaksi dan jangka waktu kredit 30 hari. Akun “potongan pembelian” dicatat di sisi kredit. Sifatnya mengurangi jumlah kas yang dibayar.
    2. Retur pembelian dan pengurangan harga adalah akun yang digunakan untuk mencatat pengembalian barang dagangan yang telah dibeli karena sesuatu hal misal karena rusak. Akun “Retur pembelian dan Pengurangan Harga” dicatat di sisi kredit sifatnya mengurangi utang dagang.
    3. Beban angkut pembelian adalah akun yang digunakan untuk mencatat besarnya beban angkut yang harus ditanggung oleh pembeli. Akun “beban angkut pembelian” dicatat di sisi debet dan kas di sisi kredit.
    4. Penjualan adalah akun yang digunakan untuk mencatat transaksi “penjualan barang dagangan” baik secara tunai maupun kredit. Akun “penjualan” dicatat di sisi debet dan kas atau piutang dagang di sisi kredit.
    5. Potongan penjualan adalah akun yang digunakan untuk mencatat potongan yang diberikan kepada pembeli. Akun “potongan penjualan” dicatat di sisi debet sifatnya mengurangi kas yang diterima.
F.       METODE PENCATATAN
Metode pencatatan persediaan barang dagangan ada 2 cara yaitu :
  1. Sistem periodik (Periode System)
Dalam sistem ini penentuan besarnya persediaan dilakukan dengan mengadakan perhitungan secara fisik terhadap persediaan barang yang ada pada akhir periode. Sistem ini cocok digunakan oleh perusahaan kecil yang barang dagangannya relatif murah dan transaksi sering terjadi.
Pada sistem ini “persediaan barang dagangan” hanya dicatat tiap akhir periode sebesar persediaan akhir  dari hasil perhitungan fisik barang dagangan. Persediaan akhir barang dagangan dianggap sebagai persediaan awal periode berikutnya. Selama periode akuntansi berjalan, jika ada pembelian barang dagangan dicatat pada akun “pembelian” dan jika ada penjualan barang dagangan dicatat pada akun “penjualan”.
  1. Sitem Terus Menerus (Perpetual System)
Dalam sistem ini diperlukan adanya pencatatan yang terus menerus mengikuti perubahan atas persediaan dari awal periode hingga akhir periode akuntansi. Sistem ini cocok digunakan perusahaan yang menjual barang dagangan dengan nilai tinggi misal TV, mobil.
Pada sistem ini akun “persediaan barang dagangan” dicatat di sisi debet setaip kali ada pembelian barang dagangan dan akan dicatat di sisi kredit setiap kali ada penjualan barang dagangan.
  1. Retur penjualan dan pengurangan harga adalah akun yang digunakan untuk mencatat pengembalian barang yang telah dijual. Akun “retur penjualan dan pengurangan harga” dicatat di sisi debet sifatnya mengurangi piutang.
  2. Beban angkut penjualan adalah akun yang digunakan untuk mencatat besarnya beban angkut yang ditanggung oleh penjual. Akun “beban angkut penjualan” dicatat di sisi debet, “Kas” di sisi kredit.
  3. Persediaan barang dagangan adalah akun yang digunakan untuk menentukan jumlah barang dagangan yang ada dalam persediaan perusahaan yang menunggu untuk dijual. Pencatatannya tergantung pada metode pencatatan persediaan yang digunakan dalam suatu perusahaan (dibahas pada sub bab berikutnya).
  4. Harga pokok penjualan adalah akun yang digunakan untuk menentukan jumlah harga pokok barang yang dijual yaitu harga beli ditambah beban-beban yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang dijual tersebut. Akun “harga pokok penjualan” dicatat pada akhir periode saat diadakan penyesuaian.
CONTOH LATIHAN SOAL DAN PEMBAHASAN
Proses pencatatan transaksi keuangan ke Jurnal Umum pada perusahaan dagang sama dengan proses pencatatan transaksi keuangan pada perusahaan jasa yaitu diawalai dengan analisis transaksi untuk menentukan akun apa saja yang terpengaruh dan harus dicatat di sisi debet dan kredit. Pencatatan transaksi keuangan ke dalam jurnal umum juga harus sistematis dan kronologis.
Contoh :
Berikut ini transaksi yang dilakukan oleh PD “Amanah” selama bulan april 2006.
April :        1.        Dijual barang dagangan kepada CV “Aini” seharga Rp. 5.000.000,00 secara tunai.
  1. Dibeli barang dagangan dari toko “Sekawan” seharga Rp. 3.000.000,00
  2. Dibayar sewa gedung untuk 5 bulan Rp. 1.000.000,00
  3. Dibeli barang dagangan dari CV Mutiara seharga Rp. 10.000.000,00 faktur no 010 dengan syarat 2/10, n/30
  4. Dikembalikan sebagian barang dagangan kepada CV Mutiara karena rusak Rp. 2.000.000,00
  5. Dibayar beban angkut barang kepada PT “Rama” sebesar Rp. 600.000,00
  6. Dibayar dengan cek no. 511 kepada CV Mutiara sebagai pelunasan faktur no. 010.
  7. Dijual  barang dagangan kepada toko “Subur” dengan faktur no. 015 seharga Rp. 3.500.000,00 dengan syarat 2/15, n/30.
17. Diterima nota debet dari toko “Subur” untuk pengembalian barang seharga Rp. 500.000,00.
20. Dibeli perlengkapan kantor dari toko “Syakita” Rp. 550.000,00
  1. Diterima kiriman uang dari toko “Subur” untuk pelunasan faktur no. 015.
Dari transaksi di atas akan dibuat pencatatan ke dalam Jurnal Umum sebagai berikut :
Tanggal
Akun dan Keterangan
Ref
Debet (Rp)
Kredit (Rp)
2006,April
1
KasPenjualan
(Penjualan tunai kepada CV “Aini)

5.000.000
5.000.000

2
PembelianKas
(pembelian tunai kpd CV “Sekawan”)

3.000.000
3.000.000

4
Sewa dibayar di mukaKas
(dibayar sewa untuk 5 bulan)

1.000.000
1.000.000

5
PembelianUtang gagang
(pembelian kredit dari CV “Mutiara”)

10.000.000
10.000.000

7
Utang dagangRetur pembelian dan PH
(pengembalian sebagain barang dagangan yang dibeli karena rusak)

2.000.000
2.000.000

8
Beban angkutKas
(pembayaran beban angkut kepada PT “Rama”)

600.000
600.000

10
Utang dagangKas
Potongan pembelian
(Pembayaran pembelian kredit dengan potongan)

8.000.000
7.840.000
160.000

15
Piutang dagangPenjualan
(Penjualan kredit kepada Toko Subur ,faktur no.015,syarat 2/15,n/30)

3.500.000
3.500.000

17
Retur penjualan dan PHPiutang dagang
(Pengembalian barang dan PH)

500.000
500.000
Tanggal
Akun dan Keterangan
Ref
Debet (Rp)
Kredit (Rp)

20
SaldoPerlengkapan kantor
Kas
(Pembelian perlengkapan tunai)

34.150.000
550.000
34.150.000
550.000

25
KasPotongan penjualan
Piutang dagang
(penerimaan pembayaran piutang dari toko “Subur”)

2.940.000
60.000
3.000.000




37.150.000
37.150.000